Untitled Document
Untitled Document

Statement of ASEAN Literary Festival on Rohingya

Statement of ASEAN Literary Festival on Rohingya

“For People and For Community of Conscience”

From the beginning ASEAN Literary Festival (ALF) puts itself not only as forum for gathering of ASEAN writers but also an effort to maintain the grouping as humane, just and people-centered community. Responding to latest development within the Southeas Asian region, especially in regard to Rohingya problem, ASEAN Literary Festival feels obliged to take a stand and voice its concerns:   

1. ASEAN Literary Festival is gravely disappointed in ASEAN members’ rejection to accept and help Rohingya refugees in their territory. This is a betrayal of ASEAN community’s basic principles as enshrined in its charter and values held high by the festival.

2. We demand that ASEAN members strengthen their pressure on Myanmar authorities to stop violence against Rohingya and stop throwing Rohingya members out of their own homes. It’s time Myanmar authorities and people to regard Rohingya as their own and live together peacefully. The second ASEAN Literary Festival in March this year pay its respect and honor to Myanmar’s writers by inviting Dr. Ma Thida to deliver her general lecture. In her speech Ma Thida delivered the importance of literature to build democracy and justice within ASEAN. Ma Thida’s speech proves that there is still voice of conscience in Myanmar.   

3. Rohingya is ASEAN citizens. So, ASEAN has the obligation to fulfill their basic rights to live in peace without fear as well as live a live with dignity and future.

4. ASEAN members must work together to find best solution for Rohingya refugees. Meanwhile, we also call those non-ASEAN coutries that become final destination for these refugees to actively engage in finding way out, provide help and ultimately accept them based on UN refugee convention.

5. Especially for Indonesia as the grouping’s biggest country and now temporarily keep most of the refugees, we call on President Joko Widodo government to lead the way for finding the solution while providing the refugees with adequate shelters until the region finds solution and they find permanent homes.

6. Whatever decision taken by ASEAN members on Rohingya refugees will determine what kind of community ASEAN will become. Will it become a just and humane community with high respect for human rights as enshrined in its charter? Or, will ASEAN Charter become a dead document serving only for rhetoric purposes? In fact, ASEAN was created precisely for catering such problems faced by Rohingya people.

7. Rohingya questions once again serves as a proof and reminder that people-to-people contact, understanding and respect of each others’ culture are keys to prevent conflicts and violence as well as foundation to build a peace, solid, just and humane ASEAN society. ASEAN Literary Festival is commited to continue fighting for this noble ends through culture and literature.

 

Jakarta, May 18 2015

 

Okky Madasari

Co-Founder/Program Director of ASEAN Literary Festival

 

 

==========================================================================================

 

Pernyataan ASEAN Literary Festival (ALF) atas Masalah Pengungsi Rohingya

Untuk Masyarakat ASEAN yang Berkeadilan, Bermartabat, dan Berhati Nurani

 

Jakarta- Menanggapi perkembangan terkini yang terjadi di kawasan ASEAN khususnya terkait masalah pengungsi Rohingya, ASEAN Literary Festival (ALF) merasa turut harus bersuara dan mengambil sikap. 

ASEAN Literary Festival sejak awal menempatkan diri tidak hanya sebagai ajang berkumpulnya sastrawan di Asia Tenggara, tapi sebagai bagian dari upaya untuk terus memelihara hati nurani, akal sehat, dan rasa kemanusiaan bagi masyarakat Asia Tenggara. Untuk itu, ASEAN Literary Festival menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

-    ASEAN Literary Festival menyampaikan kekecewaan atas penolakan negara-negara ASEAN terhadap pengungsi Rohingya. Sikap tersebut merupakan pengkhianatan terhadap prinsip dasar komunitas ASEAN dan semangat yang diusung ASEAN Literary Festival. 

-  Anggota ASEAN harus menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan dan pengusiran terhadap Rohingya. Pada ASEAN Literary Festival Maret tahun ini, kami memberi penghormatan Myanmar dengan memberi ruang pada sastrawannya, Dr. Ma Thida untuk menyampaikan kuliah umum pada malam pembukaan. Dr Ma Thida menyampaikan bagaimana sastra ikut membangun demokrasi dan keadilan di ASEAN. Apa yang disampaikan Ma Thida menunjukkan bahwa masih ada suara hati nurani di Myanmar. 

-  Rohingya adalah juga warga ASEAN. Maka ASEAN berkewajiban untuk memenuhi hak mereka agar bisa hidup aman,hidup layak, dan mempunyai masa depan.

-  Negara-negara ASEAN harus bekerjasama untuk memberikan solusi terbaik. Sementara itu, negara-negara non-ASEAN yang menjadi tujuan akhir dari pengungsi ini harus mencarikan jalan keluar, bantuan, dan  menerima pengungsi sesuai proses yang diatur oleh PBB.

-  Khusus untuk Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN yang saat ini menampung sebagian besar Rohingya, pemerintahan Presiden Joko Widodo harus aktif mencarikan solusi dan menampung pengungsi ini secara layak sampai ditemukan penyelesaikan yang permanen.

-  Sikap yang diambil oleh negara-negara ASEAN terhadap pengungsi Rohingya akan menjadi penentu bagaimana arah masyarakat ASEAN ke depan. Apakah ia akan menjadi masyarakat yang menghormati kemanusiaan dan hak asasi manusia sesuai dengan ASEAN Charter atau ASEAN Charter hanya menjadi sekadar omong kosong. ASEAN dibentuk dengan semangat mewadahi,  membantu, dan mencarikan penyelesaian terhadap masalah-masalah seperti ini.

-  Masalah Rohingya sekali lagi menjadi bukti bahwa hubungan manusia dengan manusia, pengertian dan penghormatan terhadap budaya masing-masing warga ASEAN menjadi kunci pencegahan konflik dan kekerasan, serta penjadi kunci terbentuknya masyarakat ASEAN yang padu, damai, menghargai HAM dan nilai kemanusiaan. ASEAN Literary Festival akan terus berkomitmen untuk mewujudkan tujuan mulia ini melalui sastra dan budaya.

Jakarta, 18 Mei 2015

 

Okky Madasari

Pendiri/Direktur Program ASEAN Literary Festival

Share On:

Tweet
Untitled Document